POC BS04: POC Kalsium-Kalium - KCL Nabati
On this page
- SOP Pembuatan Pupuk Kalsium-Kalium “KCL Nabati” - Skala 100 Liter
- Tahap 1: Pembuatan MOL Starter (Isolasi Bakteri Pelarut Kalsium & Kalium)
- Tahap 2: Pembuatan Tonik Nutrisi “Calci-K Boost”
- Tahap 3: Proses Fermentasi Utama (Skala 100 Liter)
- Tahap 4: Indikator Kematangan & Pemanenan
- Tahap 5: Cara Pengaplikasian pada Budidaya Cabai (Fase Generatif)
SOP Pembuatan Pupuk Kalsium-Kalium “KCL Nabati” - Skala 100 Liter
Spesifikasi Premium yang Ingin Dicapai:
- Kalsium (Ca) Terlarut Tinggi: Menyediakan Kalsium dalam bentuk yang 100% siap serap untuk mencegah busuk ujung buah (Blossom-End Rot), menguatkan dinding sel, dan membuat tanaman lebih tahan penyakit.
- Kalium (K) Organik Melimpah: Menyediakan Kalium bio-aktif untuk memaksimalkan bobot buah, meningkatkan rasa, warna, dan daya simpan, serta memperkuat batang tanaman.
- Diperkaya Bakteri Pelarut Mineral: Mengandung konsorsium bakteri yang akan terus bekerja di tanah, melarutkan cadangan Ca dan K yang mungkin masih terikat di tanah.
- pH Seimbang: Produk akhir memiliki pH yang membantu penyerapan nutrisi oleh akar, tidak seperti aplikasi kapur/kalsium mentah yang bisa menaikkan pH tanah secara drastis.
Tahap 1: Pembuatan MOL Starter (Isolasi Bakteri Pelarut Kalsium & Kalium)
Kita akan menggunakan sumber yang sama dengan POC Generatif, karena bakteri yang kita butuhkan adalah para “penambang” mineral yang tangguh.
Sumber Alami Terbaik: Tanah dari Sekitar Bebatuan Lapuk atau Tanah Vulkanis.
Bahan:
- 2 kg tanah dari area bebatuan.
- 5 liter air cucian beras kental.
- 250 gram gula aren/gula merah, dicairkan.
- 250 gram tepung cangkang telur dan 250 gram abu sabut kelapa (untuk seleksi).
Wadah: Jeriken 10 liter.
Cara Membuat:
- Masukkan semua bahan ke dalam jeriken, kocok kuat, lalu kendurkan tutupnya.
- Simpan di tempat gelap selama 10-14 hari. Ini adalah MOL Starter Pelarut Mineral.
Tahap 2: Pembuatan Tonik Nutrisi “Calci-K Boost”
Tonik ini dirancang untuk memulai proses pelarutan Kalsium secara kimiawi, yang kemudian akan dilanjutkan dan disempurnakan oleh bakteri.
Volume Tonik: 10 Liter
Bahan:
- 5 liter air kelapa tua (sumber Kalium).
- 3 liter air bersih.
- 1 kg molase (tetes tebu).
- 500 ml Cuka Makan (Asam Asetat 25%) atau 100 gram Asam Sitrat (Sitrun). Asam lemah ini akan bereaksi dengan kalsium karbonat pada cangkang telur, mempercepat proses pelarutannya.
- 500 ml ekstrak rumput laut cair.
Cara Membuat:
- Dalam ember, larutkan molase ke dalam 3 liter air.
- Masukkan air kelapa dan ekstrak rumput laut.
- Tepat sebelum digunakan, masukkan cuka atau asam sitrat, aduk rata.
Tahap 3: Proses Fermentasi Utama (Skala 100 Liter)
Alat: Drum plastik 120-150L, Aerator 2 lubang, Batu aerasi.
Bahan Utama (Sumber Ca & K Organik):
- 15 kg cangkang telur bersih, dijemur kering lalu digiling/diblender menjadi tepung sehalus mungkin (mikronasi). Ini krusial agar mudah larut.
- 10 kg abu sabut kelapa atau abu kayu keras. Ini adalah sumber Kalium (K) terbaik sebagai pengganti garam.
Bahan Lainnya:
- 10 liter Tonik Nutrisi “Calci-K Boost”.
- 10 liter MOL Starter Pelarut Mineral.
- Air bersih bebas klorin secukupnya (sekitar 65 liter).
Langkah-langkah:
- Masukkan 15 kg tepung cangkang telur ke dalam drum.
- Langkah Kunci: Tuangkan 10 liter Tonik Nutrisi “Calci-K Boost” yang sudah dicampur cuka/sitrun ke atas tepung cangkang telur. Akan terjadi reaksi buih/desis. Aduk rata dan biarkan selama 30 menit. Ini adalah proses pelarutan awal.
- Setelah reaksi buih mereda, masukkan 10 kg abu sabut kelapa dan 10 liter MOL Starter. Aduk rata.
- Tambahkan air bersih hingga total volume mencapai 100 liter. Aduk kembali.
- Nyalakan aerator. Proses aerasi akan membantu bakteri bekerja melarutkan sisa mineral dan menstabilkan larutan.
- Biarkan fermentasi berjalan selama 10-14 hari.
Tahap 4: Indikator Kematangan & Pemanenan
Indikator: Bau fermentasi ringan, larutan tidak lagi berbau asam cuka yang menyengat. Buih dari reaksi kimia sudah berhenti total.
Pemanenan:
- Matikan aerator, biarkan ampas yang tidak larut (sangat sedikit jika cangkang telur halus) mengendap selama 24 jam.
- Saring larutan. Cairan inilah KCL Nabati.
- Ampasnya bisa langsung ditaburkan di lubang tanam.
Tahap 5: Cara Pengaplikasian pada Budidaya Cabai (Fase Generatif)
Studi Kasus: Mencegah Busuk Ujung Buah (Blossom-End Rot) dan Buah Pecah pada Cabai
Prinsip: Kalsium adalah nutrisi yang bergerak lambat di dalam tanaman. Aplikasi harus rutin dan melalui akar agar dapat diangkut ke buah yang sedang tumbuh.
Waktu Aplikasi:
- Dimulai saat buah pertama terbentuk (seukuran ujung jari) dan dilanjutkan selama periode panen.
Aplikasi Rutin (Metode Paling EfektIF):
- Tujuan: Menyediakan pasokan Kalsium dan Kalium yang stabil dan berkelanjutan untuk pembentukan sel-sel baru pada buah.
- Dosis: 25-30 ml KCL Nabati per 1 liter air.
- Cara: Kocorkan 250 ml larutan per tanaman tepat di area perakaran. Lakukan rutin setiap 7-10 hari sekali.
Aplikasi Darurat (Jika Sudah Terlihat Gejala Busuk Ujung Buah):
- Tujuan: Memberikan pertolongan pertama, meskipun tidak bisa menyembuhkan buah yang sudah rusak.
- Langkah 1: Petik dan buang semua buah yang sudah menunjukkan gejala busuk.
- Langkah 2 (Kocor): Segera kocorkan larutan dengan dosis 30-40 ml per liter air.
- Langkah 3 (Semprot): Lakukan penyemprotan ke daun dan buah muda dengan dosis 10 ml per liter air pada sore hari. Ini hanya bantuan sementara, aplikasi kocor tetap yang utama.
Dengan KCL Nabati, Anda menyediakan “semen dan batu bata” bagi tanaman cabai untuk membangun buah yang kuat, sehat, tidak mudah busuk, dan tidak pecah-pecah, sekaligus meningkatkan bobotnya berkat kandungan Kalium yang tinggi.